Oleh Alex Runggeary*
TRITONPAPUA.COM – Ketika pengumuman hadiah Nobel Sastra 2026 yang dimenangkan oleh penyair asal Kanada Anne Carson, yang menarik perhatian saya adalah pernyataan Ketua Panitia Nobel Sastra bahwa karya Anne mampu menghubungkan karya masa lalu mitologi Yunani yang lama tenggelam ke pentas kehidupan modern hari ini.
Kebanyakan kita tentu tidak tertarik dengan berbagai kisah mitologi Yunani karena menurut pandangan kita tidak ada hubungannya dengan kehidupan kita hari ini. Dan itu benar. Tetapi orang yang menekuni karya klasik khususnya dari Yunani selalu saja mengejutkan dalam satu dan lain pemahaman baru.
Saya tertarik dengan karya Homeros: Iliyad dan Odissey karena ketika saya memutuskan untuk belajar mengarang saya perlu tahu latar-belakang sastra kuno tahun 750 sebelum masehi ini.
Selain itu nama Yunani dan Dewi Athena tidak asing di telingaku karena sejak kelas V sekolah dasar (setara kelas 2 JVVS masa Belanda) kami sudah mendapat pelajaran sejarah dunia dan salah satunya adalah sejarah Yunani.
Konon kisah Iliyad dan Odissey ditulis oleh banyak penulis pada masanya kemudian dirangkum oleh Homeros
Ini mengingatkan saya pada La Galigo (tahun 1605 masehi) karya sastra kuno asal Suku Bugis yang panjang kisahnya lebih panjang dari Mahabrata dan yang agak belakangan setelah masuknya agama Hindu di Jawa seperti Serat Centhini (tahun 1814).
Baik kisah Ilyad ataupun Odissey, La Galigo ataupun Senthini semuanya dimulai dengan pesan lisan dalam bentuk langgam atau suara berirama dengan nada tertentu seperti orang sedang bernyanyi.
Alasannya karena belum ada bahasa tertulis karena orang belum mengenal huruf. Untuk mengingat-ingat kisah yang diwariskan secara turun-temurun, cara termudah menghafalnya adalah dalam bentuk langgam ataupun bernyanyi
Ini mengggiring saya kepada pemikiran seperti apa kisah kuno ataupun mistis Suku Kurudu?
Kakekku Alexander setiap kali pulang setelah melaut, biasanya pada malam hari sambil mendendangkan Ambor, Nadanya sendu rada sedih.
Namun demikian pertanda ia telah pulang dengan hasil yang siap dibagi ke tetangga. Seekor Penyu memang harus dibagi-bagi begitu banyak dagingnya.
Apa sesungguhnya yang terkandung di dalam Ambor itu saya sama sekali tidak tahu. Demikian juga kebanyakan orang di sana.
Lain pula kisah Kayof.
Ketika adikkku Monica meninggal aku masih terlalu kecil untuk paham apa yamg sesungguhnya terjadi. Setelah ibuku meraung-raung menangisi adikku, suasana lebih sepi. Datanglah seorang nenek yang saya tidak mengenalinya sebelumnya. Ia meratapi adikku sambil berkisah entah tentang apa. Dengan bahasa yang tak seorangpun paham.
Ini yang dinamakan Kayof. Sudah pasti mengandung kisah-kisah turun-temurun yang diulang-ulang pada setiap kesempatan mungkin dengan maksud agar diwariskan ke generasi berikutnya.
Pasti mengandung mitos ataupun kejadian sesungguhnya tetapi diulang – ulang agar menjadi warisan kebaikan dalam bersikap dalam hidup.
Entahlah!
Sangat disayangkan budaya Ambor dan Kayof ini belum sempat ada orang yang menuliskannya dari budaya lisan tersebut.
Padahal mitologi Yunani, La Galigo dan Centhini pasti dimulai dengan bahasa lisan sampai kemudian ada yang menuliskannya.
Pada akhirnya, budaya suku Kurudu dalam bahasa lisan Ambor dan Kayof kini tidak ada orang sempat menuliskannya.
Suku Kurudu kehilangan sumber nilai itu untuk selamanya.
Padahal hari ini Anne Carson telah membuktikan bahwa pesan nilai masa lalu, dalam hal ini sastra klasik, bagai cermin, masih tetap relevan untuk kehidupan manusia masa kini.
Mata pelajaran ini diajarkan di beberapa perguruan tinggi terkemuka sehingga menjadi tetap hidup.***
*Alex Runggeary ialah penulis Papua anggota SATUPENA
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi

Tulis Komentar
Login atau daftar untuk berkomentar