TRITONPAPUA.COM – Dari Dogiyai ke Boston University, Yuna Sila Yobe membuktikan bahwa anak muda Papua bisa bersaing di tingkat global.
Baginya, pendidikan bukan sekadar jalan meraih gelar, melainkan bekal untuk memperjuangkan pembangunan yang lebih adil, tepat sasaran, dan berpihak kepada masyarakat.
Ada banyak anak muda Papua yang menyimpan mimpi besar, tetapi tidak semuanya mengetahui cara mewujudkannya.
Ada yang terkendala biaya, keterbatasan informasi, kemampuan bahasa Inggris, atau lingkungan yang belum sepenuhnya mendukung.
Namun, perjalanan Yuna Sila Yobe, seorang aparatur sipil negara (ASN) asal Dogiyai, Papua Tengah, memberikan pesan sederhana: mimpi besar dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang tekun, keberanian mencoba, dan kemauan terus belajar.
Yuna berhasil menempuh pendidikan magister di bidang city planning atau perencanaan kota di Boston University, Amerika Serikat, melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Pencapaian ini bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga membawa harapan, khususnya generasi muda dan perempuan Papua yang ingin mengambil bagian lebih besar dalam pembangunan.
Bahasa Inggris
Salah satu pesan penting yang disampaikan Yuna adalah perlunya menguasi bahasa Inggris bagi anak muda Papua.
Di tengah dunia yang semakin terhubung, bahasa Inggris bukan hanya mata pelajaran di sekolah, melainkan sarana untuk memperoleh pengetahuan, membangun jejaring internasional, dan mengakses berbagai peluang pendidikan.
Menariknya, Yuna tidak menggambarkan proses belajar bahasa Inggris sebagai sesuatu yang harus selalu berlangsung melalui metode formal.
Ia membiasakan diri belajar dari konten yang disukainya, termasuk menonton tutorial tata rias atau make up dalam bahasa Inggris.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa belajar dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak harus menunggu mengikuti kursus mahal atau berada di lingkungan yang sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris.
Dengan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia, seseorang dapat mulai melatih pendengaran, memperkaya kosakata, dan membangun keberanian untuk berkomunikasi.
Bagi anak muda Papua yang ingin memperoleh beasiswa, melanjutkan pendidikan ke luar negeri, atau membangun karier profesional, pesan Yuna sangat relevan: jangan menjadikan keterbatasan berbahasa sebagai alasan untuk berhenti mencoba. Mulailah belajar dari sekarang, sedikit demi sedikit, tetapi secara konsisten.
Dimulai dari rumah
Perjalanan seseorang menuju keberhasilan tidak selalu ditentukan oleh kemampuan akademik semata. Lingkungan keluarga dan orang-orang terdekat juga mempunyai peran penting dalam membentuk keberanian, kepercayaan diri, dan semangat untuk berkembang.
Yuna menekankan bahwa motivasi untuk maju perlu tumbuh dari dalam rumah. Keluarga yang mendukung pendidikan, menghargai cita-cita anak, dan memberikan ruang untuk mencoba dapat menjadi fondasi penting bagi masa depan generasi muda.
Bagi keluarga Papua, pesan ini memiliki makna tersendiri. Dukungan tidak selalu harus berupa fasilitas yang mahal. Kesediaan orang tua mendengarkan cita-cita anak, memberikan dorongan ketika menghadapi kegagalan, dan membiasakan anak untuk terus belajar merupakan modal yang sangat berarti.
Tentu saja, tidak semua anak memiliki kondisi keluarga dan fasilitas pendidikan yang sama.
Karena itu, dukungan keluarga perlu berjalan bersama peran sekolah, pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat.
Anak-anak Papua membutuhkan lingkungan yang tidak hanya mendorong mereka untuk bermimpi, tetapi juga membantu mereka menemukan jalan untuk mewujudkan impian tersebut.
Menjemput Peluang
Dalam perjalanan mengejar beasiswa, Yuna juga berbagi pengalaman mengenai pentingnya membangun jejaring atau networking.
Ia tidak memandang perjuangan pendidikan sebagai perjalanan yang harus ditempuh seorang diri. Kehadiran teman-teman yang memiliki tujuan serupa dapat menjadi sumber informasi, tempat bertukar pengalaman, sekaligus penyemangat ketika menghadapi kesulitan.
Salah satu sikap yang ditekankannya adalah keberanian untuk menjemput bola. Anak muda tidak seharusnya hanya menunggu informasi datang, melainkan perlu aktif mencari kesempatan, bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman, meminta arahan, dan mempelajari persyaratan beasiswa sejak dini.
Bagi sebagian orang, bertanya mungkin terasa memalukan. Ada pula yang takut dianggap tidak mampu atau khawatir ditolak. Namun, dalam perjalanan menuju pendidikan yang lebih tinggi, keberanian bertanya justru dapat membuka jalan yang sebelumnya tidak diketahui.
Pesan ini penting bagi anak muda di Dogiyai, Papua Tengah, maupun wilayah Papua lainnya yang jauh dari pusat informasi pendidikan.
Mereka perlu membangun kebiasaan mencari informasi, bergabung dengan komunitas belajar, berdiskusi dengan penerima beasiswa, serta memanfaatkan jaringan digital untuk memperluas wawasan.
Keberhasilan Yuna memberikan pelajaran bahwa peluang tidak selalu datang dengan sendirinya. Sering kali, peluang harus dicari, dipelajari, dan diperjuangkan melalui hubungan baik dengan orang lain serta kemauan untuk mengambil inisiatif.
Berpihak kepada Rakyat
Di balik pencapaian akademiknya, hal yang membuat perjalanan Yuna menarik adalah orientasinya terhadap pengabdian.
Ilmu city planning yang dipelajarinya di Boston University bukan semata-mata untuk membangun karier pribadi, tetapi juga menjadi bekal untuk memahami dan menjawab persoalan pembangunan.
Perencanaan kota bukan hanya tentang merancang jalan, gedung, kawasan permukiman, atau pusat perdagangan. Bidang ini juga menyangkut bagaimana masyarakat memperoleh akses terhadap pelayanan publik, transportasi, perumahan, fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, ruang ekonomi, dan lingkungan yang layak.
Di Papua, persoalan perencanaan pembangunan memiliki tantangan tersendiri. Kondisi geografis, keterbatasan infrastruktur, keragaman budaya, kebutuhan masyarakat adat, serta persoalan hak atas tanah dan ruang hidup perlu diperhitungkan dalam setiap kebijakan pembangunan.
Pembangunan yang baik tidak cukup hanya terlihat megah secara fisik. Pembangunan harus menjawab kebutuhan masyarakat, memberikan manfaat yang nyata, dan memperhatikan kondisi sosial serta budaya setempat.
Yuna ingin mengambil peran sebagai penghubung atau bridging antara kebutuhan masyarakat dan kebijakan pemerintah. Peran ini penting karena kebijakan yang dirancang tanpa memahami kondisi nyata di lapangan berisiko tidak menjawab persoalan yang sesungguhnya dihadapi masyarakat.
Sebaliknya, ketika pengalaman masyarakat didengar dan dipertimbangkan dalam proses perencanaan, kebijakan publik memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan program yang tepat sasaran dan berkelanjutan.
Dalam konteks Papua Tengah, pemikiran tersebut relevan untuk pembangunan kawasan perkotaan, permukiman masyarakat, fasilitas umum, konektivitas antardaerah, dan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Ilmu perencanaan perlu dipadukan dengan pengetahuan lokal, dialog dengan masyarakat adat, serta pemahaman terhadap karakteristik setiap wilayah.
Dengan demikian, pendidikan tinggi yang ditempuh di luar negeri dapat menjadi jembatan pengetahuan: mempelajari pengalaman global, memahami tantangan lokal, kemudian mengadaptasi pengetahuan tersebut sesuai kebutuhan masyarakat Papua.
Perempuan Papua
Selain pendidikan dan pembangunan, Yuna juga menyoroti peran penting perempuan Papua dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.
Di berbagai wilayah Papua, mama-mama Papua memegang peranan besar dalam menggerakkan ekonomi keluarga. Mereka menjual hasil kebun, mengelola usaha kecil, memasarkan hasil tangkapan, serta menjalankan berbagai kegiatan ekonomi yang menopang kehidupan rumah tangga.
Peran tersebut sering kali berlangsung di tengah keterbatasan akses terhadap modal, fasilitas usaha, pasar, dan perlindungan sosial. Padahal, kontribusi perempuan merupakan bagian penting dari ketahanan ekonomi keluarga dan masyarakat.
Karena itu, pemberdayaan perempuan Papua seharusnya tidak berhenti pada pengakuan terhadap peran mereka. Pemberdayaan perlu diwujudkan melalui kesempatan pendidikan, akses terhadap sumber pembiayaan, pelatihan usaha, perlindungan hak, dan ruang yang lebih luas dalam pengambilan keputusan.
Yuna juga mengapresiasi kebijakan otonomi khusus (Otsus) Papua yang menyediakan ruang keterwakilan khusus bagi perempuan dalam politik dan pemerintahan.
Menurut semangat yang disampaikannya, keterwakilan tersebut adalah salah satu langkah untuk memperkuat suara perempuan dalam proses pengambilan keputusan.
Kehadiran perempuan dalam lembaga politik dan pemerintahan penting agar kebijakan publik semakin memperhatikan pengalaman, kebutuhan, dan aspirasi perempuan. Namun, keterwakilan perlu disertai kesempatan yang nyata untuk berpartisipasi, menyampaikan pendapat, dan memengaruhi kebijakan.
Perempuan Papua tidak hanya perlu dilihat sebagai penerima manfaat pembangunan. Mereka juga harus memperoleh kesempatan menjadi perancang, pengambil keputusan, pemimpin, dan pelaksana pembangunan.
Perjalanan Yuna sendiri memperlihatkan salah satu bentuk partisipasi tersebut: seorang perempuan Papua yang menempuh pendidikan tinggi, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri untuk mengambil peran dalam pembangunan daerahnya.
Dari Dogiyai untuk generasi muda Papua
Kisah Yuna Sila Yobe menyampaikan pesan bahwa keberhasilan tidak selalu dimulai dari tempat yang memiliki fasilitas paling lengkap.
Perjalanan menuju masa depan yang lebih baik dapat berawal dari daerah, keluarga, dan lingkungan sederhana, selama tersedia kemauan untuk belajar, keberanian mencari peluang, serta ketekunan menghadapi tantangan.
Namun, kisah inspiratif ini tidak seharusnya berhenti sebagai cerita tentang satu orang yang berhasil. Perjalanan Yuna perlu menjadi dorongan bagi lahirnya lebih banyak anak muda Papua yang memperoleh kesempatan serupa.
Pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dan keluarga dapat bekerja bersama membangun ekosistem pendidikan yang lebih kuat.
Informasi beasiswa perlu menjangkau kampung-kampung, kemampuan bahasa asing perlu dikembangkan sejak dini, dan anak muda perlu memperoleh pendampingan untuk mempersiapkan diri menghadapi seleksi pendidikan tinggi.
Pada saat yang sama, putra-putri Papua yang telah memperoleh pendidikan dan pengalaman profesional perlu didorong untuk membagikan pengetahuan, membangun jejaring, dan berkontribusi bagi daerahnya masing-masing.
Sebab, investasi terbaik bagi masa depan Papua bukan hanya pembangunan gedung, jalan, atau fasilitas fisik. Investasi yang tidak kalah penting adalah membangun manusia Papua yang berpengetahuan, percaya diri, berintegritas, dan mampu mengambil bagian dalam menentukan masa depan tanahnya sendiri.
Mimpi besar
Yuna Sila Yobe menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi jalan untuk memperluas cakrawala sekaligus memperkuat pengabdian kepada masyarakat.
Dari Dogiyai sampai Boston University, perjalanannya mengingatkan bahwa batas geografis tidak harus menjadi batas bagi cita-cita.
Pesannya kepada generasi muda Papua jelas: teruslah belajar, kuasai bahasa yang membuka akses ke dunia, bangun pertemanan yang saling menguatkan, jangan takut bertanya, dan beranilah menjemput kesempatan.
Bagi perempuan Papua, kisahnya juga membawa pesan bahwa pendidikan dan keberanian mengambil peran dapat memperluas ruang kontribusi dalam keluarga, masyarakat, dan pemerintahan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya sejauh mana seseorang melangkah meninggalkan kampung halamannya, melainkan juga bagaimana pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya dapat digunakan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat.
Dari Dogiyai, Yuna membawa sebuah pesan penting bagi Papua: bermimpilah setinggi mungkin, persiapkan diri sebaik mungkin, dan gunakan pengetahuan untuk membangun masa depan rakyat.***

Tulis Komentar
Login atau daftar untuk berkomentar