Home chevron_right People

Dokter Yosep Mote Sp.BS: Neurosurgeon ketiga orang asli Papua  

TRITONPAPUA.COM – Perjalanan pendidikan, pengabdian, dan pengembangan kompetensi dokter spesialis bedah saraf: dari RSMM Timika, RSUD Jayapura, Universitas Udayana, sampai Shanghai, Cina.

Dari Deiyai menyulam mimpi menjadi dokter

Di tengah bentangan pegunungan Papua, dari tanah yang dikenal sebagai wilayah budaya Meepago, tumbuh seorang putera Papua bernama Yosep Mote. Ia berasal dari Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah.

Perjalanan hidup dan pendidikannya menjadi salah satu kisah tentang perjuangan, ketekunan, dan keberhasilan anak Papua dalam mengembangkan ilmu pengetahuan hingga mencapai kompetensi profesional di tingkat internasional.

Seperti banyak anak Papua lainnya yang memiliki cita-cita besar, Yosep menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk membangun masa depan. Perjalanan dari Deiyai menuju Jayapura menjadi salah satu langkah awal dalam mewujudkan cita-citanya.

Ia kemudian menempuh pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih (UNCEN), Jayapura. Di tempat inilah fondasi keilmuan dan profesionalismenya sebagai seorang dokter mulai dibangun.

Menjadi dokter bukan sekadar memperoleh gelar akademik atau profesi yang dihormati masyarakat. Dunia kedokteran merupakan ruang pengabdian yang menuntut tanggung jawab, ketelitian, kepedulian, dan komitmen terhadap kehidupan manusia.

Perjalanan Yosep menjadi gambaran bahwa anak-anak yang berasal dari wilayah pegunungan Papua juga memiliki kesempatan untuk berkembang dan mengambil bagian dalam kemajuan ilmu pengetahuan.

 Mengawali pengabdian sebagai dokter umum

Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran, Yosep memulai perjalanan profesionalnya sebagai dokter umum di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika, Kabupaten Mimika, pada tahun 2016.

Pengabdian selama kurang lebih lima tahun di RSMM menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya. Di lingkungan rumah sakit tersebut, ia memperoleh pengalaman pelayanan kesehatan secara langsung dan berhadapan dengan berbagai kebutuhan medis Masyarakat, terutama masyarakat 7 Suku (Amungme, Kamoro, Mee, Moni, Dani, Nduga dan Damal).

Bekerja sebagai dokter umum memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan klinis, komunikasi dengan pasien, pemahaman terhadap persoalan kesehatan, serta pengalaman menghadapi tantangan pelayanan medis di daerah.

Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting bagi perjalanan profesionalnya. Ia tidak hanya mengembangkan pengetahuan medis, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai arti pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

 Menempuh pendidikan spesialis bedah saraf di Universitas Udayana Denpasar

Ilmu kedokteran merupakan bidang yang terus berkembang. Kemajuan teknologi dan metode penanganan penyakit menuntut seorang dokter untuk terus meningkatkan pengetahuan serta kompetensi profesionalnya.

Setelah menjalani pengabdian sebagai dokter umum di RSMM Timika, Yosep melanjutkan pendidikan spesialis bedah saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali.

Ia memilih bidang bedah saraf atau neurosurgery, sebuah disiplin kedokteran dengan tingkat kompleksitas tinggi yang membutuhkan ketelitian, pengetahuan mendalam, dan keterampilan khusus.

Bedah saraf berfokus pada diagnosis dan penanganan penyakit serta gangguan pada sistem saraf, termasuk otak, tulang belakang, dan saraf tepi.

Otak merupakan salah satu organ paling kompleks dalam tubuh manusia. Organ ini menjadi pusat pengendalian berbagai fungsi kehidupan, mulai dari gerakan, ingatan, emosi, hingga kemampuan berpikir. Karena itu, pendidikan bedah saraf menuntut penguasaan ilmu anatomi, fisiologi, keterampilan klinis, serta kemampuan melakukan tindakan operatif dengan tingkat presisi tinggi.

Perjalanan pendidikan spesialis tersebut membutuhkan dedikasi, disiplin, ketekunan, dan pengorbanan waktu.

Tanggal 18 Juni 2025 menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan akademiknya. Pada tanggal tersebut, Yosep berhasil menyelesaikan pendidikan spesialis bedah saraf dan memperoleh gelar Sp.BS.

Pencapaian ini bukan sekadar penanda berakhirnya masa pendidikan, melainkan awal tanggung jawab profesional yang lebih besar sebagai dokter spesialis bedah saraf.

Bagi seorang putera Papua asal Deiyai, keberhasilan tersebut menjadi bagian dari kisah tentang bagaimana pendidikan dapat membuka jalan untuk menembus batas geografis dan akademik.

Pelayanan profesional di RSUD Jayapura

Setelah menyelesaikan pendidikan spesialis bedah saraf, Yosep menjalankan pelayanan profesional di RSUD Jayapura, yang dikenal masyarakat sebagai RSUD Dok II Jayapura.

Kehadirannya menjadi bagian dari pengembangan kapasitas pelayanan bedah saraf di salah satu rumah sakit rujukan utama di Tanah Papua.

Pelayanan bedah saraf memiliki peran strategis karena berbagai penyakit dan gangguan pada otak serta tulang belakang membutuhkan penanganan khusus, teknologi medis, dan tenaga dokter spesialis dengan kompetensi yang sesuai.

Dalam konteks pembangunan kesehatan Papua, ketersediaan dokter spesialis bedah saraf merupakan kebutuhan penting. Kondisi geografis, jarak antarkabupaten, keterbatasan fasilitas kesehatan, serta kebutuhan pelayanan medis lanjutan menjadi tantangan yang harus dijawab secara bertahap.

Kehadiran Yosep sebagai dokter spesialis bedah saraf asal Papua menjadi bagian dari upaya memperkuat pelayanan kesehatan rujukan di Jayapura – Papua.

Namun, perjalanan pengabdiannya tidak berhenti pada pelayanan klinis. Pengembangan kompetensi internasional melalui program Fellowship Neurointervention di Shanghai menjadi langkah berikutnya untuk meningkatkan kapasitas keahliannya.

Sejarah Baru: Neurosurgeon ketiga dari orang asli Papua

Salah satu aspek yang memberikan makna khusus dalam perjalanan dr. Yosep Mote adalah pencapaiannya sebagai dokter spesialis bedah saraf dari kalangan Orang Asli Papua (OAP).

Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam materi profil dan poster apresiasi, dr. Yosep disebut sebagai dokter spesialis bedah saraf ketiga dari kalangan OAP, setelah dua nama yang lebih dahulu dikenal dalam bidang ini, yaitu:

Dr. dr. Tommy J. Numberi, Sp.BS, FINPS, FTB, Ph.D

Dr. Tommy J. Numberi merupakan salah satu dokter spesialis bedah saraf OAP yang lebih dahulu berkiprah dalam pelayanan kesehatan di Papua. Namanya juga dikenal dalam pengembangan sumber daya manusia dan pendidikan kedokteran di Tanah Papua.

Dokter Paulina Christine Sajori, Sp.BS

Dokter Paulina Christine Sajori merupakan dokter spesialis bedah saraf perempuan dari Papua. Kehadirannya menjadi bagian penting dari perkembangan tenaga medis spesialis di Tanah Papua, sekaligus memberikan inspirasi bagi perempuan Papua untuk menekuni pendidikan kedokteran dengan keahlian khusus.

Dokter Yosep Mote, Sp.BS

Yosep Mote melanjutkan jejak tersebut sebagai dokter spesialis bedah saraf OAP. Ia berasal dari Suku Mee, Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah.

Dalam informasi yang disampaikan mengenai pencapaiannya, Yosep juga disebut sebagai dokter spesialis bedah saraf pertama dari kalangan OAP yang berasal dari wilayah pegunungan Papua, khususnya kawasan budaya Meepago dan 2 dokter sebelumnya berasal dari kawasan budaya Saireri.

Mengenal dokter spesialis bedah saraf di Papua

Perkembangan tenaga dokter spesialis bedah saraf di Papua tidak hanya ditandai oleh kehadiran dokter OAP. Ada pula dokter dari luar Papua yang telah mengabdikan diri dan berkontribusi dalam pelayanan kesehatan di wilayah ini.

Salah satu nama yang perlu mendapat perhatian adalah Dr. dr. Hendrikus M. B. Bolly, M.Si., Sp.BS-FIS, FICS, AIFO-K, CP.NLP, C.Ed. Berdasarkan informasi yang disampaikan, dr. Hendrikus M. B. Bolly merupakan putera Nusa Tenggara Timur (NTT) telah lama berkiprah dalam dunia kedokteran di Tanah Papua.

Kehadirannya memperlihatkan bahwa pembangunan pelayanan kesehatan Papua juga membutuhkan kolaborasi tenaga profesional dari berbagai daerah dan latar belakang. Dengan demikian, poster apresiasi yang menampilkan empat dokter tersebut menggambarkan keberadaan tenaga spesialis bedah saraf yang memiliki peran dalam perkembangan pelayanan kesehatan di Papua, baik putera-puteri asli Papua maupun tenaga profesional dari luar Papua sebagai Tenaga Dokter spesialis berbasis Kontrak dalam waktu tertentu di Tanah Papua.

 Fellowship neurointervention di Shanghai

Semangat untuk terus belajar dan mengikuti perkembangan teknologi kedokteran membawa Yosep ke tahap pengembangan profesional berikutnya.

Ia memperoleh kesempatan mengikuti program Fellowship Neurointervention di Shanghai Sixth People’s Hospital, Tiongkok, melalui dukungan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program fellowship tersebut berlangsung sekitar satu tahun, mulai Oktober 2025 hingga 2026.

Neurointervention merupakan bidang kedokteran yang menggunakan teknik minimal invasif dengan bantuan teknologi pencitraan untuk menangani berbagai gangguan pembuluh darah otak dan sistem saraf.

Bidang ini memiliki peran penting dalam perkembangan pelayanan kesehatan modern, termasuk penanganan sejumlah kasus stroke, aneurisma, dan kelainan pembuluh darah otak.

Penguasaan teknologi tersebut membutuhkan pengetahuan mendalam mengenai anatomi pembuluh darah, keterampilan prosedural, pemahaman pencitraan medis, serta kemampuan mengambil keputusan klinis secara tepat.

Melalui program fellowship di Shanghai, Yosep memperoleh kesempatan memperluas wawasan, mempelajari perkembangan teknologi medis, dan meningkatkan keterampilan profesional dalam lingkungan pendidikan serta pelayanan kesehatan internasional.

Pengalaman internasional ini menjadi modal penting bagi pengembangan kompetensinya sebagai dokter spesialis bedah saraf, terutama dalam bidang neurointervention.

Kesempatan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya investasi pendidikan melalui program beasiswa LPDP dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, termasuk putra-putri Papua.

Harapannya, ilmu dan pengalaman yang diperoleh tidak hanya menjadi pencapaian pribadi, tetapi juga dapat ditransfer dan dikembangkan untuk memperkuat pelayanan kesehatan di Tanah Papua.

 Menjadi Komandan upacara di Shanghai

Selain perjalanan akademik dan profesional, Yosep juga memperoleh pengalaman membanggakan ketika berada di Tiongkok.

Pada 17 Agustus 2026, ia dipercaya menjadi Komandan Upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Shanghai. Upacara tersebut dihadiri sekitar 160 warga negara Indonesia yang berada di Shanghai. Bersama sepuluh pelajar dan pekerja Indonesia lainnya, Yosep menjalani persiapan dan latihan selama kurang lebih dua bulan untuk melaksanakan tugas tersebut.

Kepercayaan menjadi komandan upacara di luar negeri merupakan pengalaman yang memiliki makna tersendiri. Di tengah kesibukan pendidikan dan pengembangan profesional, ia mendapatkan kesempatan mengambil bagian dalam kegiatan yang merepresentasikan identitas, nasionalisme, dan kebanggaan sebagai warga negara Indonesia.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan seorang putera Papua yang membawa identitas daerahnya sekaligus mengambil bagian dalam kegiatan kebangsaan di tingkat internasional.

Di Shanghai, ribuan kilometer dari tanah kelahirannya, semangat Indonesia tetap hadir melalui sebuah upacara yang mempertemukan warga negara Indonesia dari berbagai latar belakang.

 Memperkuat pelayanan bedah saraf di RSUD Jayapura

Salah satu perkembangan penting dalam pelayanan kesehatan Papua adalah penguatan layanan bedah saraf di RSUD Jayapura, Dok II.

Berdasarkan informasi yang disampaikan, dua dokter spesialis bedah saraf internal yang menjadi bagian dari pelayanan rumah sakit tersebut adalah: dr. Tommy J. Numberi, Sp.BS dan dr. Yosep Mote, Sp.BS. Kehadiran kedua dokter spesialis tersebut merupakan bagian penting dalam memperkuat kapasitas pelayanan bedah saraf di RSUD Jayapura.

Dengan adanya tenaga spesialis internal, rumah sakit memiliki kapasitas lebih besar untuk melakukan evaluasi, penanganan, dan tindakan operasi terhadap pasien yang membutuhkan pelayanan bedah saraf.

Pengembangan ini juga memiliki arti penting bagi masyarakat Papua yang selama ini menghadapi tantangan akses pelayanan medis lanjutan dan kebutuhan rujukan ke luar daerah.

Operasi tumor tulang belakang

Salah satu bukti perkembangan pelayanan bedah saraf di RSUD Jayapura terlihat melalui keberhasilan pelaksanaan operasi tumor tulang belakang.

Pada 26 April 2026, situs resmi RSUD Jayapura memberitakan keberhasilan tindakan operasi tersebut. Keberhasilan ini menjadi salah satu tonggak penting dalam peningkatan kemampuan pelayanan bedah saraf di Papua.

Peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pengembangan sarana-prasarana medis merupakan bagian dari upaya memperkuat pelayanan rujukan.

Dengan perkembangan tersebut, masyarakat Papua diharapkan memiliki akses yang semakin dekat terhadap sejumlah tindakan medis yang sebelumnya sering memerlukan rujukan ke luar Papua.

Beberapa jenis kasus yang menjadi bagian dari ruang lingkup pelayanan bedah saraf antara lain: Tumor otak dan kelainan pada sistem saraf; Trauma dan cedera kepala;  Gangguan serta kelainan pada tulang belakang; Tumor tulang belakang dan Penyakit pembuluh darah otak yang memerlukan penanganan khusus.

Jenis tindakan yang dapat dilakukan tetap bergantung pada kondisi pasien, ketersediaan fasilitas, teknologi, tenaga pendukung, dan tingkat kompleksitas kasus.

 Penguatan pelayanan daerah

Pengembangan kompetensi dr. Yosep melalui fellowship Neurointervention di Shanghai memiliki relevansi dengan kebutuhan peningkatan pelayanan kesehatan di Papua.

Penguasaan teknologi dan metode penanganan pembuluh darah otak dapat menjadi salah satu modal untuk mengembangkan pelayanan intervensi stroke dan tindakan neurovaskular di masa mendatang.

Ketika kompetensi dokter spesialis didukung oleh fasilitas rumah sakit, peralatan medis, tenaga kesehatan terlatih, dan sistem rujukan yang baik, kapasitas pelayanan kesehatan daerah dapat semakin berkembang.

Dengan demikian, perjalanan profesional Yosep tidak hanya memiliki arti bagi pengembangan karier pribadi, tetapi juga berpotensi memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat Papua.

 Investasi masa depan Papua

Perjalanan dr. Yosep Mote memberikan gambaran bahwa pembangunan sumber daya manusia merupakan investasi jangka panjang yang sangat penting bagi masa depan Papua.

Pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur fisik. Peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan profesionalisme harus berjalan beriringan.

Dalam sektor kesehatan, Papua masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pemerataan tenaga medis, keterbatasan fasilitas pelayanan spesialis, akses geografis, hingga kebutuhan peningkatan kualitas layanan rujukan.

Karena itu, pengembangan dokter spesialis dan tenaga kesehatan dengan kompetensi internasional merupakan salah satu langkah strategis untuk memperkuat kapasitas daerah.

Pengalaman Yosep menunjukkan pentingnya kesinambungan antara pendidikan tinggi, pengalaman pelayanan kesehatan, pendidikan spesialis, dan pengembangan kompetensi melalui jejaring internasional.

Program beasiswa seperti LPDP juga mempunyai peran penting dalam membuka kesempatan bagi putra-putri Papua untuk memperoleh pendidikan dan pelatihan berkualitas.

Namun, keberhasilan pengembangan SDM tidak berhenti pada kesempatan memperoleh pendidikan. Tantangan berikutnya adalah bagaimana kompetensi yang diperoleh dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.

Dalam bidang kesehatan, hal ini dapat diwujudkan melalui: Penguatan pelayanan bedah saraf di rumah sakit rujukan Papua; Pengembangan layanan neurointervention dan penanganan stroke sesuai kesiapan fasilitas; Transfer pengetahuan dan keterampilan kepada tenaga medis Papua; Pengembangan pendidikan dokter spesialis dan kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran UNCEN; Penguatan jejaring rujukan pelayanan kesehatan di wilayah Papua Tengah dan provinsi-provinsi di Tanah Papua; Pengembangan fasilitas dan teknologi medis yang mendukung tindakan bedah saraf dan Peningkatan kesempatan pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda Papua.

Dengan demikian, investasi pendidikan dapat menghasilkan manfaat yang lebih luas, bukan hanya bagi individu yang memperoleh kesempatan belajar, tetapi juga bagi masyarakat dan daerah asalnya.

Membangun pelayanan kesehatan di tanah Papua

Pengalaman pendidikan dan pengembangan keahlian di luar negeri diharapkan tidak berhenti sebagai pencapaian akademik atau profesional semata, tetapi dapat menjadi modal untuk memperkuat pelayanan kesehatan di Indonesia, khususnya di Tanah Papua.

Penguasaan bidang bedah saraf dan neurointervention memiliki potensi kontribusi dalam pengembangan layanan kesehatan yang lebih maju, termasuk peningkatan kemampuan diagnosis dan penanganan penyakit pembuluh darah otak.

Papua membutuhkan lebih banyak tenaga profesional yang mampu menghubungkan perkembangan ilmu pengetahuan global dengan kebutuhan masyarakat lokal.

Tantangan berikutnya adalah bagaimana pengalaman dan kompetensi yang diperoleh dapat diterjemahkan menjadi kontribusi nyata melalui pelayanan klinis, transfer pengetahuan, kolaborasi pendidikan, penelitian, serta pengembangan fasilitas kesehatan.

Kehadiran dokter spesialis asal Papua dengan pengalaman internasional juga dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menekuni pendidikan kedokteran dan bidang ilmu pengetahuan lainnya.

Bagi generasi muda Deiyai, Dogiyai, Paniai, dan wilayah Papua lainnya, perjalanan Yosep dapat menjadi pengingat bahwa asal-usul geografis bukanlah batas untuk mencapai cita-cita.

Pendidikan, kerja keras, dan kesempatan yang didukung keluarga serta masyarakat dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih luas.

Dari Deiyai untuk Papua, Indonesia, dan dunia

Perjalanan dr. Yosep Mote, Sp.BS, merupakan salah satu kisah tentang harapan dan perjuangan putera Papua melalui pendidikan dan pengabdian.

Dari Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih di Jayapura, pengabdian sebagai dokter umum di RSMM Timika pada 2016–2020, pendidikan spesialis bedah saraf di Universitas Udayana, pelayanan profesional di RSUD Jayapura, hingga pengembangan kompetensi internasional melalui Fellowship Neurointervention di Shanghai Sixth People’s Hospital, perjalanan tersebut memperlihatkan pentingnya pendidikan berkelanjutan.

Tanggal 18 Juni 2025 menjadi penanda keberhasilan menyelesaikan pendidikan spesialis bedah saraf.

Pencapaiannya juga memiliki makna penting dalam perkembangan sumber daya manusia Papua. Bersama dr. Tommy J. Numberi dan dr. Paulina Christine Sajori, Yosep disebut sebagai bagian dari tiga dokter spesialis bedah saraf OAP yang telah membuka jalan bagi generasi berikutnya.

Di sisi lain, kontribusi dr. Hendrikus M.B. Bolly, yang berasal dari NTT dan telah lama mengabdi di Tanah Papua, menunjukkan bahwa kemajuan pelayanan kesehatan membutuhkan kolaborasi dan pengabdian tenaga profesional dari berbagai latar belakang.

Kisah ini bukan hanya tentang gelar spesialis atau prestasi individu. Lebih dari itu, ini adalah cerita tentang bagaimana pendidikan, kesempatan, kerja keras, dan pengabdian dapat menghasilkan manfaat bagi kehidupan manusia.

Dokter Yosep Mote, Sp.BS. Dari Deiyai, Timika, Jayapura, Bali, hingga Shanghai, perjalanan Yosep menjadi bagian dari kisah putera Papua yang berani menembus batas geografis untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperkuat pelayanan kemanusiaan.

Sebab, keberhasilan sejati bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang melangkah meninggalkan tanah kelahirannya, melainkan juga tentang seberapa besar ilmu dan pengalaman yang dapat dibawa untuk memberikan manfaat bagi sesama dan tanah leluhurnya.

Pesan inspiratif

“Jangan pernah membatasi cita-cita hanya karena kita dilahirkan di tempat yang jauh dari pusat kemajuan. Tanah kelahiran bukanlah batas masa depan. Dengan pendidikan, ketekunan, keberanian, dan doa, anak-anak Papua dapat berdiri sejajar di panggung ilmu pengetahuan dunia.

Ke mana pun langkah membawa kita, jangan pernah melupakan tanah tempat kita berasal dan masyarakat yang membutuhkan pengabdian kita.”

Tuhan memakai setiap orang dengan talenta dan keahliannya untuk menyelamatkan serta melayani sesama manusia. Semoga ilmu yang diperoleh menjadi berkat bagi banyak orang. Amin.***

Terkait