Home chevron_right Uncategorized

Hari berdirinya gedung Gereja Marga Mulya ke-169 tahun

Oleh Alex Runggeary*

TRITONPAPUA.COM – Sebuah bangunan gereja kecil tenggelam dalam kerumuman bangunan tua maupun baru di Jalan Malioboro, Yogyakarta ke arah Titik Nol yang terkenal itu.

Bangunan gereja tua ini adalah warisan Belanda. Kemarin Minggu 1 November, anggota jemaat diundang merayakan ulang tahun bagunan gereja ini yang ke-169 tahun. Suatu masa yang panjang dibanding kehadiran bangunan-bangunan gereja baru di Nusantara

Di bagian dinding depan atas mimbar tertera Die in mij Gelooft Heeft Met Eeuwige Leven. Ini bukti autentik bahwa gedung gereja ini adalah warisan Belanda.

Tulisan ini diambil dari Injil Yohnes 6:47 “Barangsiapa Percaya KepadaKu, ia mempumyai hidup yang Kekal”.

Pemilik bangunan gereja Marga Mulya (baca: Margo Mulyo) adalah dari Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat atau GPIB. Bertepatan juga dengan perayaan ulang tahun GPIB ke-78.

Gereja ini unik karena setiap kali ibadah Minggu dihadiri juga oleh turis lokal maupun asing terutama dari Negeri Belanda.

Ini membuat khotbah diselingi dengan bahasa Inggris. Kehadiran jumlah anggota jemaat sekitar 300-an jiwa setiap minggunya yang penuh sesak untuk sesi jam 09:00 pagi. Ada tiga sesi waktu yang berbeda.

Menurut pendapat saya, gereja kecil ini sangat responsif terhadap gejolak yang terjadi di dalam masyarakat. Hanya dua hari setelah demo besar-besaran di Titik Nol Malioboro Yogyakarta 28 Oktober, Gereja mengeluarkan stiker TigaJariSalibMerah yang sangat berani mengritisi pemerintah dalam berbagai isu nasional. Dari Aceh, NTT, Kebakaran Hutan, PSN Papua, dan lain-lain dirangkum dalam Salam TigaJari Salib Merah.

Berani karena gereja besar tidak ada yang berani menyuarakan suara mahasiswa yang mewakili rakyat. Nampak jelas di postingan media sosial yang sepi.

Bahkan Ketua Majelis Jematnya Pendeta Jimmy Marcos Immanuel Sormim ikut berdemo hari itu

Gereja di Papua tampak sepi bersuara yang biasanya keras dan nyaring.

Selamat hari ulang tahun Gereja Marga Mulya yang ke-169 dan GPIB yang ke-78, tetap berakar dan bertumbuh dalam masyarakat.

Salam TigaJariSalib Merah!***

*Alex Runggeary ialah penulis Papua, anggota SATUPENA

Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi

Terkait