Home chevron_right Arts Culture

MBG dan selera lokal

TRITONPAPUA.COM – Cerita MOB ala Papua , mati ketawa ala Papua.

Halo kawan-kawan semua! Selamat menyimak!

MBG pertama kali

Begini sa pu cerita kam mau dengar to, akhir-akhir ini torang nonton di TV dan media sosial lainnya, heboh sekali bahas soal program MBG “Makan Bergizi Gratis”.

Kamorang tau to? Dulu waktu kitong sekolah, biasa dapat bantuan buku paket dan terkadang seragam. Atau di sekolah-sekolah misi di pedalaman biasa dapat jatah susu tiap Jumat pake antre dulu untuk minum susu. Sekarang? Anak-anak sekolah dapat makan siang bergizi gratis tiap hari lagi! Semua dalam bentuk paket box makan. Mantap apa!

Tapi… sa lihat anak Papua, begitu dengar kata “Makan Bergizi Gratis”, waktu pertama kali dong pikir itu nanti langusng dong siapkan di dapur umum dalam tenda-tenda yang nanti mama-mama yang masak dan siapkan dan nanti  antre untuk menerimanya. Seperti bantuan kepada para pengungsi yang kelaparan akibat perang atau kekeringan seperti yang kitong lihat di TV, Padahal trada  …

Menu ideal vs menu lapangan

Sa bayangkan, ahli gizi di pusat bikin resep standar: “Oke, menu hari Senin: Nasi putih, dada ayam panggang, tumis buncis, dan buah apel.”

Aduh kaka eee … Kalau anak-anak di daerah pedalaman diberi menu begitu, mereka bisa bingung! Pasti ada anak yang tanya: “Aduh Ibu Guru, ini dada ayam dengan kuah yang banyak? Terus ini buncis dan wortel  kenapa potong kecil-kecil begini, dengan porsi orang tahanan”

Anak Papua itu biasa makan dengan porsi mantap, kawan! Kalori tinggi untuk lari naik-turun bukit.

Jadi kalau cuma dapat nasi sedikit dengan potongan ayam seukuran ibu jari, itu bukan makan siang… itu cuma tes rasa!

Nanti jam dua siang anak-anak sudah kelaparan lagi, baru mereka bilang: “Makan bergizi gratis tadi su habis di tenggorokan, belum sampai di perut!”.

Usulan menu MBG kearifan lokal

Makanya sa mau usul sama panitia penyelenggara MBG. Kalau buat di Papua, tolong sesuaikan dengan kearifan lokal!

Karbohidratnya: Jangan cuma nasi! Selang-selingkah dengan papeda hangat, keladi rebus, Ubi Jalar atau sagu bakar.

Lauknya: Ikan kuah kuning segar atau udang kali.

Sayurnya: Daun singkong  atau tumis bunga pepaya campur kangkung.

Coba bayangkan, kalau menunya begitu, anak-anak tidak cuma rajin sekolah, guru-guru juga ikut antre di barisan depan bawa piring sendiri!

Nanti kepala sekolah tegur: “Pak Guru, kenapa ikut antre makanan murid?”

Pak Guru jawab: “Aduh Kepala Sekolah, ini demi memastikan mutu dan gizi makanan anak-anak toh… sekalian sa belum sarapan!” 

Efek MBG di rumah

Tapi ada satu hal lagi yang bikin sa pusing. Kalau anak-anak sudah dapat makan siang kenyang dan bergizi di sekolah, nanti bapak-mama di rumah yang bingung.

Dulu kan kalau anak pulang sekolah, mama di rumah bilang: “Cepat ganti baju, baru datang makan!”

Sekarang anak pulang sekolah, mama panggil: “Kaleb, mari makan!” Anaknya jawab: “Aaa mama, sa su kenyang. Tadi di sekolah dapat ayam bakar, telur balado, sama susu cair. Sa su kenyang sekali!”

Mama langsung lihat ke meja makan… di meja cuma ada keladi rebus sama sambal garam rica.

Mama bilang dalam hati: “Aduh, ini MBG bikin sa punya keladi tidak laku lagi di rumah apa lagi sa pu jualan di pasar!” 

Berkat apa yang pahit ini …

Biasanya makanan MBG di bagikan untuk jatah tiap makan anak di sekolah. Jadi pasti semua mendapat jatah sehingga proses belajar dan mengajar bisa berjalan dengan lancar.

Tapi suatu ketika Yakop tra dapat jatah makan, karena jatah makannya disembunyikan oleh salah satu temannya.

Yakop cari di tiap laci dan lemari  ruang kelas tapi tidak menemukannya.

Dia sempat ribut dengan teman-teman, Yakop marah ke teman-temannya “makan sudah kam pu MBG tuh”. Sa pu mama juga pasti siapkan su makanan buat saya di rumah.

Sesampai di rumah Yakop de lihat makanan di meja. Di atas meja hannya ada seekor ikan dan sayur tumis daun papaya. Yakop berguman ke mamanya: “Mama kenapa masak daun papaya terus. Sa su lapar baro”.

Mamanya menyahut: “Yakop makan sudah biar daun pepaya itu juga berkat”. Trus sambil menyantap makan itu Yakop berguman; ‘iya tapi berkat apa yang pahit kayak begini nih …’

Closing

Tapi ya, terlepas dari semua candaan itu, dan pro kontra soal program MBG ini betul-betul hal yang bagus sekali untuk adik-adik kita apabila tata kelolahnya dibenahi dengan baik lagi dan lebih efisien. Supaya anak-anak Papua tumbuh sehat, cerdas, dan punya energi buat raih cita-cita mereka.

Yang penting, bagikan secara merata dari kota sampai ke kampung-kampung terpencil.

Sa rasa itu saja dari sa, terima kasih banyak kawan-kawan semua!***

Terkait