Oleh Alex Runggeary*
TRITONPAPUA.COM – “Kalian berdua, pergilah ke halaman rumah itu. Galilah tempat simpanan piring kita. Ambillah salah satu piring besar di sana. Kita akan berikan kepada nenek yang telah datang menangisi adikmu Monica kemarin,” kata Ibu kepada ayah dan aku.
Ternyata dalam adat Kurudu memberi penghargaan kepada mereka yang telah datang ikut berbelasungkawa. Apalagi dengan menyumbang Elegi Kayop patutlah diberikan penghargaan yang pantas.
Tidak semua orang bisa berkayop yang memerlukan kemampuan tersendiri yang tidak dimiliki orang kebanyakan.
Kayop adalah elegi bernada suara kesedihan mendalam akan kepergian salah satu anggota keluarga dari seorang besar yang pernah berjasa dalam kehidupan masyarakat setempat yang selalu dikenang walaupun orangnya sendiri telah lama pergi.
Sepertinya Kakekku Alexander _ the Left Handed (Tangan Kirinya yang Aktif) si Pemburu Penyu [1] itu atau mungkin juga Kakeknyanya Mambu si Penjaga Perbatasan [2]
Kenangan inilah yang kemudian dirangkum ke dalam elegi kenangan dalam nada penyesalan, kesedihan, meraung-raung sambil berkisah akan kebesaran, kebaikan sang tokoh di masa lalu yang anggota keluarganya meninggal sekarang.
Dengan memberikan piring besar kepada sang nenek memberikan pesan: kami menyampaikan terima kasih, telah datang berkayop pada kematian anak kami kemarin dan tetap memelihara hubungan kekeluargaan yang baik dengan Anda.
Kayop adalah elegi bentuk lisan yang dimiliki masyarakat Kurudu dan Biak yang sayangnya tidak ada pihak yang menuliskannya dalam bentuk tulisan.
Kayop Terakhir yang saya dengar itu pada tahun 1954 ketika adikku Monica meninggal.
Kayop mulai terkikis sejak itu karena kemanapun ini tidak diturunkan ke generasi berikut.
Puluhan tahun kemudian sewaktu temanku Demianus Kurni menginggal di Belanda dan dikirim pulang ke Biak, saya melihat dan mendengar elegi kayop yang menyayat hati dari seorang teman Demi lewat Facebook.
Budaya elegi Kayop semakin punah seiring para pemiliknya merasa semakin modern. Tetapi begitulah budaya lama terkikis oleh kehidupan modern.***
*Alex Runggeary ialah penulis Papua anggota SATUPENA
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
Referensi
[ 1] Memutus Siklus, Alex Runggeary, Indiebook Corner, Jogjakarta 2017
[2] Di Tapal Batas, Alex Runggeary Nasmedia Jogjakarta 2022

Tulis Komentar
Login atau daftar untuk berkomentar