Home chevron_right Arts Culture

Lari untuk sehat atau untuk flexing?

Lari untuk Sehat atau untuk Flexing?

TRITONPAPUA.COM – Komedi Papua ini bukan ditujukan untuk menyudutkan pihak tertentu. Ini sekadar humor untuk menyegarkan pikiran da perasaan manusia lewat bahasa orang Papua.

Sekali lagi, narasi dalam komedia ini bukan untuk menyakiti pihak tertentu bila ternyata ada yang tersentil.

Tema: Flexing, gaya hidup, dan tren Running Club ketika olahraga bukan cuma mengejar kesehatan, tetapi juga mengejar konten media sosial!

“Siooo, apa kabar, pace mace, anak-anak muda Papua di mana saja berada!

Ko pu HP su pintar, internet su kencang, setiap saat bisa update Status di Medsos, tapi so sesuaikah dengan ko pu hidup sehari-hari, bagaimana? Hehe!

Ada yang olah raga hanya untuk konten, ada yang beli sepatu lari mahal untuk konten agar terlihat keren, ada sengaja lari untuk cari jodoh, ada yang bagaya hidup sehat agar terlihat dalam  konten. Adooo, dunia so mo kiamat…!

Aduhhh, zaman sekarang memang ada-ada saja!

Nah, kali ini ada cerita kebiasaan anak-anak di era digital dengan gaya Papua: santai, lucu, sedikit menyindir, tapi ada pesan yang bisa katong ambil bersama.

Jadi, pace mace, ana-ana siap-siap ketawa eee!

Yuk, kitong mulai!

Sa ada 4 Mob ini selamat menyimak ya …

Lari untuk Sehat atau untuk Konten?

“Siooo, pace mace! Sekarang ini orang di kota besar su ramai ikut Running Club. Dulu kalau orang lari, biasanya karena dikejar anjing! Sekarang orang lari karena dikejar tren!”

Aduhhh, zaman su berubah! Anjing su tidak perlu kejar orang, karena orang sendiri yang bayar mahal untuk lari!”

“Sa pu teman ajak sa ikut lari pagi. Sa tanya, ‘Kawan, ko mau lari ke mana?’

De jawab, ‘Kita ikut Running Club, Club untuk lari ka itu! Biar sehat dan bangun relasi atau networking itu’

Sa bilang, ‘Bagus! Berarti kita lari keliling lapangan?’

De bilang, ‘Iya, tapi ko harus punya sepatu running (lari)  yang bagus.’

Sa tanya, ‘Sepatu pu harga berapa?’

Dia jawab, ‘Tiga juta!’

Siooo! Tiga juta cuma untuk sepatu lari? Sa pu motor saja kalau jalan, tidak pernah minta sepatu!

Dia datang lengkap: baju dry-fit, jam GPS, kacamata olahraga, botol minum khusus, sampai kaus kaki yang katanya bisa bikin lari lebih cepat.

Sa tanya, ‘Kawan, kalau semua barang ini lengkap, ko bisa lari berapa kilometer?’

De jawab, ‘Belum tahu. Ini pertama kali.’

Aduhhh! Perlengkapan so kelas atlet internasional, pengalaman masih atlet kampung ke kampung!

Kami mulai lari. Baru 500 meter, sa pu napas su berbunyi macam mesin ketinting kehabisan bensin!

Sa bilang, ‘Kawan, istirahat dulu!’

De jawab, ‘Jangan! Sebentar lagi ada kamera!’

Begitu lewat kamera, dia langsung tegakkan badan, senyum, dan angkat jempol. Padahal baru beberapa detik sebelumnya dia pegang lutut sambil panggil nama Tuhan!”

“Ternyata dia bukan takut tidak kuat lari. Dia takut kalau fotonya tidak kelihatan atlet! Hahaha!”

Sepatu Tiga Juta, Lari Lima Ratus Meter

“Aduhhh, sa paling heran deng orang yang baru mulai olahraga! Belum pernah lari satu kilometer, tapi sepatu yang dibeli su macam mau ikut Olimpiade!”

“Sa pu teman beli sepatu running (sepatu lari) tiga juta. Sa tanya, ‘Kawan, ko beli sepatu mahal begini untuk apa?’

De jawab, ‘Supaya lari lebih cepat!’

Sa bilang, ‘Oh, jadi kalau sa pakai sepatu ini, sa bisa kejar bus?’

De jawab, ‘Bisa!’

Sa bilang, ‘Kalau begitu, sa pinjam dulu. Sa mau kejar tukang sayur yang tadi lewat depan rumah!’

De langsung marah, ‘Jangan! Sepatu ini khusus running (untuk olah ranga lari)!’

Sa tanya, ‘Loh, memang tukang sayur tidak bisa dikejar pakai sepatu running?’

De bilang, ‘Kaka tidak mengerti teknologi sepatu!’

Siooo! Sepatu saja sekarang punya teknologi, tapi pemiliknya baru lari 500 meter sudah minta ojek!

Waktu lari, dia selalu lihat jam GPS.

Sa tanya, ‘Ko lihat apa terus?’

De jawab, ‘Sa cek pace.’

Sa bilang, ‘Pace siapa? Pace yang di kampung atau pace yang punya warung?’

De bilang, ‘Bukan! Pace itu kecepatan lari!’ atau Pacul Cepat.

Sa jawab, ‘Ohhh! Jadi ko bayar tiga juta supaya jam bisa kasih tahu ko lambat?’

Dia langsung diam!”

“Kawan, sepatu tiga juta tidak otomatis bikin ko jadi pelari hebat. Kalau ko cuma berdiri untuk foto, itu bukan running shoes (sepatu lari) lagi, itu sepatu pameran berjalan!”

Running Club atau Klub Cari Jodoh?

“Pace mace, katanya sekarang ikut Running Club itu bagus untuk kesehatan. Tapi sa curiga, ada yang ikut bukan mau sehat, melainkan mau cari pasangan hidup!”

“Siooo, dulu orang pergi ke pesta untuk cari pacar. Sekarang orang pergi lari pagi, berharap jodoh ikut ngos-ngosan di sebelah!”

“Sa pu teman bilang, ‘Kaka, besok ikut lari jam lima pagi!’

Sa tanya, ‘Ko serius mau olahraga?’

De jawab, ‘Serius!’

Sa tanya lagi, ‘Kenapa ko pilih baju baru, parfum, dan kacamata hitam?’

De jawab, ‘Supaya nyaman saat berlari.’

Sa bilang, ‘Nyaman lari atau nyaman kalau ada ade cantik lewat?’

Dia langsung tertawa!

Sampai di lokasi, dia tidak lihat jalur lari. Dia lihat siapa saja yang datang.

Ada ade cantik lewat, dia langsung lari di sebelahnya.

Ade nona itu tambah cepat, dia ikut cepat. Ade nona itu berhenti minum, dia ikut berhenti.

Sa tanya, ‘Kawan, ko pu target hari ini berapa kilometer?’

De jawab, ‘Tergantung!’

Sa bilang, ‘Tergantung apa?’

De jawab, ‘Kalau ade nona itu lari lima kilometer, sa lima kilometer. Kalau dia pulang, sa juga pulang!’

Siooo! Ini bukan Running Club, ini klub pengawalan pribadi!

Setelah selesai, dia unggah foto berdua dengan caption: ‘Partner in progress.’

Sa tanya, ‘Kawan, ko su kenal dia?’

De jawab, ‘Belum.’

Sa bilang, ‘Terus kenapa caption begitu?’

De jawab, ‘Biar dia tahu sa serius!’

Sa bilang, ‘Dia tahu ko serius olahraga atau serius mengganggu orang yang mau olahraga?’”

“Akhirnya dia pulang tanpa nomor telepon, tanpa pacar, dan tanpa tenaga. Tapi fotonya bagus sekali! Di media sosial kelihatan romantis, di rumah tidur sampai siang!”

Flexing gaya hidup sehat

“Sekarang ini ada orang yang kalau olahraga, semua harus diketahui internet! Lari harus difoto, minum air harus direkam, makan pisang harus masuk Story. Aduhhh, kalau buang napas saja mungkin dia mau bikin konten!”

“Sa pu teman habis lari 2 kilometer. Dia unggah foto, tulis: ‘No excuses. Discipline is everything!’ atau maksudnya kurang lebih jangan cari-cari alasan, disiplin dalam segala hal.

Sa tanya, ‘Kawan, ko lari berapa jauh?’

De jawab, ‘Dua kilometer.’

Sa bilang, ‘Bagus! Terus ko lanjut olahraga apa?’

De jawab, ‘Sa istirahat dulu sampai besok.’

Siooo! Dua kilometer lari, tiga hari pemulihan!

Dia juga beli jam pintar yang bisa hitung langkah, detak jantung, kalori, dan kualitas tidur.

Sa tanya, ‘Jam itu bisa tahu ko sedang bahagia?’

De jawab, ‘Tidak.’

Sa bilang, ‘Bisa tahu ko sedang sedih?’

De jawab, ‘Tidak.’

Sa bilang, ‘Bisa tahu ko punya utang?’

De jawab, ‘Tidak juga.’

Sa bilang, ‘Kalau begitu, jam ko pintar sekali hitung langkah, tapi tidak bisa bantu ko selesaikan masalah hidup!’

Yang lucu, waktu lari dia selalu cek jam. Kalau langkahnya belum cukup, dia jalan keliling rumah sebelum tidur.

Sa tanya, ‘Ko sedang cari apa?’

De jawab, ‘Target 10.000 langkah!’

Sa bilang, ‘Kawan, kalau ko jalan keliling rumah terus, tetangga bisa pikir ko sedang mencari barang hilang!’

De bilang, ‘Tidak apa-apa, yang penting target tercapai.’

Sa jawab, ‘Betul. Tapi jangan sampai ko pu langkah 10.000, sementara ko pu dompet langkah mundur karena beli perlengkapan terus!’”

“Ingat, kawan! Tidak semua yang pakai jam pintar hidupnya pintar. Kadang jamnya tahu ko sudah lari 10 kilometer, tapi ko sendiri belum tahu mau lari dari masalah yang mana!”

Closing

“Siooo, pace mace! Olahraga itu bagus untuk kesehatan. Mau ikut Running Club, lari pagi, atau jalan kaki keliling kampung, semua boleh!

Tapi jangan sampai ko lebih sibuk beli sepatu daripada mulai berlari. Jangan sampai ko lebih rajin bikin konten daripada menjaga kesehatan. Dan jangan sampai ko lari cuma supaya orang lain lihat ko hebat!

Mulai saja dari kemampuan ko. Tidak perlu sepatu tiga juta untuk mulai bergerak. Yang penting konsisten, jaga kesehatan, dan nikmati prosesnya.

Ingat, lebih baik lari pelan tapi rutin, daripada lari cepat cuma waktu kamera menyala! Hahaha!***

Terkait